Peringatan Kemerdekaan HUT RI 76

,

Dalam rangka memperingati HUT RI ke-76, pada Selasa pagi, 17 Agustus 2021, SMPIT Darul Maza melaksanakan kegiatan upacara kemerdekaan secara virtuak yang dihadiri oleh keluarga besar SMPIT Darul Maza. Kegiatan berlangsung secara lancar dan khidmat hingga akhir upacara. Para tenaga pendidik berkesempatan menjadi petugas upacara pada kegiatan tersebut. Adapun para peserta didik berlaku sebagai peserta upacara yang hadir melalui siaran daring melalui Zoom di rumah masing-masing.

Upacara Kemerdekaan HUT RI ke-76

Read more

Memaknai Hijrah di Tengah Pandemi: Momentum Muhasabah dan Perbaikan Diri

,

Peristiwa tahun baru Hijriah seyogyanya bukanlah sekedar peristiwa biasa bagi umat muslim manapun di dunia. Peringatannya di setiap tahun demi tahun pun seharusnya lebih dari sekedar peringatan tahun baru pada umumnya. Tahun baru hijriah lebih dari sekedar ritual seremonial, ia memiliki makna agung di baliknya. Bukan hanya karena peringatannya yang bermula dari peristiwa monumental bernama hijrah, namun semangat dan spirit perubahan di baliknya lah yang patut diaktualisasikan oleh masing-masing pribadi seorang muslim.

Hijrah yang maknanya adalah berpindah, memang menuntut kita tuk senantiasa berpindah dari suatu kondisi ke kondisi yang lebih baik lagi. Maka di setiap peringatan pergantian tahun baru, utamanya tahun baru hijriah, kita senantiasa tertuntut menjadikan peringatan tersebut sebagai momentum tuk mengoreksi, mengevaluasi dan memperbaiki diri; keburukan apa yang kiranya harus ditinggalkan, dan kebaikan apa yang kiranya harus dikerjakan. Sungguh, jika kita dapat menjadi pribadi yang senantiasa menginterospeksi atau bermuhasabah diri, maka kita akan masuk dalam kategori manusia cerdas sebagaimana yang disabdakan nabi SAW:

الْكَيِّسُ ‌مَنْ ‌دَانَ ‌نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ، مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، ثُمَّ تَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

“Orang yang cerdas adalah yang mengevaluasi dirinya dan mempersiapkan bekal kematian, sedangkan orang bodoh yaitu yang menuruti hawa nafsu dan berangan-angan kepada Allah (ia akan diberi kebahagian di akhirat).” (HR. Ibnu Majah dari Syadad bin Auf r.a) [1]

Umar bin Khattab juga menyatakan sebait kalimat yang mendukung hadis tersebut dengan ucapannya yang sangat fenomenal;

‌حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا

“Koreksilah diri kalian sebelum (kebaikan dan keburukan) kalian diperhitungkan (di hadapan Allah).” [2]

Dalam konteks pandemi, memahami dan memaknai hijrah harus dari perspektif yang lebih luas lagi, bahwa di tengah situasi serba keterbatasan seperti ini, kita dipaksa oleh keadaan untuk senantiasa dapat beradaptasi dari kebiasaan lama menuju kebiasaan baru. Kita dipaksa untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru dalam berbagai lini kehidupan, baik ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, bahkan dalam kehidupan beragama. Maka spirit perubahan dalam konteks pandemi juga dapat dimaknai sebagai semangat berevolusi,  berinovasi, dan berkreasi.

Hijrah di tengah pandemi ini bukan berarti lari dari daerah atau negara kita, akan tetapi ikhtiar untuk mewujudkan kondisi lebih baik, menjalani anjuran medis dan kebijakan pemerintah dalam melawan COVID-19, terus bergerak ke arah lebih baik dengan komitmen dan konsekuensi yang harus dilakukan karena berpindah dari keadaan yang buruk menjadi keadaan yang baik, dari kondisi yang sudah baik menjadi kondisi yang lebih baik, itulah hijrah di tengah pandemi.

Selamat tahun baru 1 Muharram 1443 H, semoga kita bisa menyelami makna hijrah dengan sebaik-baiknya, semoga setiap Muharram-Muharram yang akan datang ke depannya, dapat memberikan energi baru untuk menggantikan berbagai macam keburukan di tahun-tahun sebelumnya.

Mari kita jadikan tahun baru hijriyah sebagai tahun optimisme untuk bisa melalui segala ujian, di momentum Muharram 1443 hijriyah kita mengetuk pintu langit, menengadahkan tangan dan menundukkan hati kita, berdoa memohon kepada Allah SWT, Dzat yang maha kuasa atas segala sesuatu agar mempermudah segala urusan kita dalam menghadapi situasi yang serba sulit ini, dan semoga Allah selalu memantapkan hati kita dalam berdakwah di jalanNya, aamiin.

[1] Ibnu Majah, Sunan Ibn Majah (Kairo: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, t.th), vol. 2, hlm. 1423
[2] Al-Harist bin Asad al-Muhasiby, Riasalatul Mustarsyidin (Halb: Maktabah Mathbuat Islamiyah, 1971), hlm. 48.